Sabtu, 19 Oktober 2013

“TUMBUHAN DAN KHASIATNYA UNTUK PENGAWETAN” OLEH CHENDRYANA R HULISELAN


 NAMA TUMBUHAN
KHASIAT UNTUK PENGAWET
REFERENSI
BLIMBING WULUH (Averhoa bilimbi)


Tanaman belimbing wuluh, baik pada batang, buah dan daun, berdasarkan hasil pengujian secara in vitro pada bakteri Escherichia coli (E. coli), Staphylococcus aureus (S. aureus), Micrococcus luteus (M. luteus) dan Pseudomonas fluorescens (P. fluorescens) menunjukkan potensi yang aktif sebagai antibakteri. Senyawa aktif yang diduga yang terdapat pada tanaman belimbing wuluh yang bersifat sebagai antibakteri antara lain, senyawa-senyawa metabolit skunder tannin, flavonoid, alkaloid, tannin, terpenoid, saponin.
Tanaman belimbing wuluh ini baik daun, buah bahkan batangnya mempunyai manfaat dan khasia, batang belimbing wuluh (Faradisa, 2008) dan buah belimbing wuluh (Latifah, 2008), daun belimbing wuluh (Ummah, 2010 dan Mukhlisoh, 2010) secara laboratories mempunyai potensi sebagai antimikroba.
Mazidah Riftin, Rochmah Ni’matur, dan Muhimmah Izzatul. 2012. Terkait Tanaman Fungsi Pewarna dan Pengawet. Tugas III Jurusan Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim; Malang. dalam  http://dynilara.wordpress.com/2012/06/28/tanaman-yang-berfungsi-sebagai-pewarna-dan-pengawet-makanan/

MENGKUDU (Morinda citrifolia L.)

Pemakaian formalin pada makanan sangat tidak dianjurkan karena formalin mengandung zat formaldehid bersifat racun, iritasi lambung, alergi, bersifat karsinogenik dan bersifat mutagen, sehingga perlu usaha untuk menemukan bahan pengawet dari bahan yang alami. Hasil beberapa penelitian menunjukkan bahwa buah mengkudu mengandung senyawa antimikroba, sehingga berpeluang dimanfaatkan sebagai pengawet alami. Ekstrak buah mengkudu sebagai pengawet alami daging dan ikan segar. Bahwa uji in vitro menunjukkan ekstrak etanol buah mengkudu mempunyai konsentrasi hambatan minimal sebesar 40%, sedangkan uji in vivo menunjukkan bahwa konsentrasi ekstrak optimal tercapai pada konsentrasi 70% (Harborne, 1996: 77).
Mazidah Riftin, Rochmah Ni’matur, dan Muhimmah Izzatul. 2012. Terkait Tanaman Fungsi Pewarna dan Pengawet. Tugas III Jurusan Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim; Malang. dalam  http://dynilara.wordpress.com/2012/06/28/tanaman-yang-berfungsi-sebagai-pewarna-dan-pengawet-makanan/

LIDAH  BUAYA ( Aloe vera L.)

Potensi lidah buaya yang mengandung enzim oksidase sebagai antioksidan merupakan hal yang dapat dikembangkan. Hal ini menyiratkan bahwa tanaman lidah buaya berpotensi sebagai bahan pengawet alami terhadap bahan pangan sehingga dapat meningkatkan daya simpan bahan pangan tersebut.Pengawetan sendiri bertujuan untuk menghambat terjadinya pembusukan bahan pangan dan menjamin kualitas awal bahan pangan agar tetap terjaga selama mungkin. Salah satu peranan bahan pengawet adalah sebagai antioksidan. Sebagai antioksidan, zat-zat pengawet akan menekan reaksi yang terjadi pada saat pangan berkontak dengan oksigen, sinar panas dan beberapa logam sehingga dapat mencegah  terjadinya kebusukan dan munculnya noda-noda hitam pada produk pangan.
Buah-buahan memiliki manfaat gizi yang sangat baik bagi tubuh, namun banyak buah memiliki daya simpan yang cukup singkat sehingga menyebabkan buah tersebut cepat membusuk. Pengawetan terhadap buah-buahan sangat sering dilakukan oleh masyarakat. Namun, pengawetan dengan menggunakan bahan alami untuk menghindari efek dari bahan kimia pengawet, masih sangat jarang dilakukan oleh masyarakat luas. Peningkatan daya simpan dari buah-buahan melalui pengawet alami dapat dikembangkan. Pengawetan dengan bahan alami menggunakan gel lidah buaya dapat dijadikan perhatian oleh masyarakat luas mengingat adanya enzim oksidase sebagai sifat antioksidan dalam gel lidah buaya. Gel lidah buaya (Aloe vera) dikenal mempunyai efek untuk mengobati kulit yang terbakar dan mengalami iritasi (Furnawanthi, 2007).
Berdasarkan hasil penelitian para ahli, tanaman lidah buaya kaya akan kandungan zat-zat seperti: asam amino, mineral, vitamin, enzim, dan beberapa zat lain sangat bermanfaat bagi kesehatan tubuh. Selain itu, menurut Wahyono E dan Kusnandar (2002), lidah buaya juga berkhasiat sebagai anti jamur, anti bakteri, anti inflamasi, dan dapat membantu proses regenerasi sel. Di samping menurunkan kadar gula dalam darah bagi penderita diabetes, mengontrol tekanan darah, menstimulasi kekebalan tubuh terhadap serangan penyakit kanker, serta dapat digunakan sebagai nutrisi bagi penderita HIV/AIDS.
Ø  Mazidah Riftin, Rochmah Ni’matur, dan Muhimmah Izzatul. 2012. Terkait Tanaman Fungsi Pewarna dan Pengawet. Tugas III Jurusan Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim; Malang. dalam  http://dynilara.wordpress.com/2012/06/28/tanaman-yang-berfungsi-sebagai-pewarna-dan-pengawet-makanan/

DAUN KECOMBRANG

PENGAWET ALAMI EKSTRAK DAUN KECOMBRANG SEBAGAI PENGGANTI FORMALIN PADA MAKANAN KONVENSIONAL


KARAGENAN

Keragenan adalah bahan alami pembentuk gel yang dapat digunakan untuk mengenyalkan bakso dan mie basah sebagai bahan alternatif yang aman pengganti borax. Karagenan dihasilkan dari rumput laut Euchema sp yang telah dibudidayakan di berbagai perairan Indonesia. Dijelaskannya bahwa setiap 1 kilogram bakso membutuhkan 0,5 - 1,5 gram karagenan untuk mengenyalkannya. Di pasaran 0,5 - 1,5 gram karagenan dijual dengan harga Rp750 sampai Rp900. Karagenan dalam industri sering dijadikan bahan campuran kosmetik, obat-obatan, es krim, susu, kue, roti dan berbagai produk makanan


BUAH PICUNG

Pohon picung atau kluwak (jawa) banyak tersebar di seluruh nusantara. Selain sebagai bumbu masak dapur, biji buah picung juga bisa dimanfaatkan sebagai pengawet alami ikan segar. Kombinasi 2 % biji buah picung dan 2% garam dari total berat ikan telah mampu mengawetkan ikan kembung segar selama 6 hari tanpa merubah mutu.
Normalnya, ikan kembung segar yang disimpan di suhu kamar tanpa penambahan picung atau es hanya bisa bertahan 6 jam. Lebih dari itu, ikan tersebut akan busuk dan rusak. Hasil penelitian R.A Hangesti Emi Widyasari, mahasiswa S2 Program Studi Teknologi Kelautan Sekolah Pasca Sarjana IPB ini merupakan terobosan dalam mengatasi kesulitan pemerolehan dan menekan harga es batu. Disamping menghindari penggunaan larutan formalin yang berbahaya bagi kesehatan manusia.
Seorang nelayan untuk mempertahankan mutu ikan hasil tangkapannya membutuhkan es batu minimal 1 :1 berat ikan segar. Bila ikan yang ditangkap 50 kg, maka nelayan membutuhkan es batu minimal 50 kg pula. Namun dengan memanfaatkan cacahan biji buah picung, nelayan hanya membutuhkan 1 kg cacahan biji buah picung untuk 50 kg ikan segar

 


GAMBIR

Tanaman gambir (Uncariae Romulus et Uncus) di Indonesia daun dan getahnya digunakan untuk bahan kelengkapan untuk menyirih. Tanaman yang termasuk keluarga Rubiaceae ini juga sering digunakan untuk obat luka bakar, sakit kepala, diare, disentri, sariawan, dan sakit kulit, serta bahan penyamak kulit dan bahan pewarna tekstil.
Secara alami para produsen makanan sering menggunakan tanaman yang daunnya berbentuk bujur sangkar dengan permukaan licin ini untuk pengawet makanan. Pasalnya, dalam daun ini terdapat sebuah kandungan katekin yang dapat mengawetkan makanan dari kerusakan akibat mikroorganisme dan degradasi reaksi oksidasi (penyebab basi).

 


BIJI KEPAYANG
 Pohon tanaman ini memiliki tinggi hingga 40 m dengan diameter batang 2,5 m. Jika melihat uraian diatas, maka dapat dikatakan tanaman ini tumbuh tersebar luas hampir di seluruh Nusantara. Kepayang mulai berbuah di awal musim hujan pada umur 15 tahun dengan jumlah 300 biji di setiap pohonnya .

Tanaman ini telah lama digunakan sebagai bahan pengawet ikan. Untuk dapat memanfaatkannya sebagai pengawet, biji dicincang halus dan dijemur selama 2-3 hari. Hasil cincangan tanaman ini kemudian dimasukkan ke dalam perut lkan laut yang telah dibersihkan isi perutnya. Cincangan biji Kepayang memiliki efektivitas sebagai pengawet ikan hingga 6 hari . Khusus untuk pengangkutan jarak jauh, tanaman ini dicampur garam, dengan perbandingan 1 bagian garam dan 3 bagian biji Kepayang.

 

Selasa, 24 September 2013

BENTENG AMSTERDAM DAN GEREJA TUA HILA "PESONA AMBOINA"


Hila adalah nama suatu daerah di bagian utara Pulau Ambon yang berhadapan dengan pulau Seram. Berjarak sekitar 35 km dari kota Ambon. Memiliki beberapa bangunan historis yang ditinggalkan sejak jaman penjajahan. Antara lain Gereja Tua Immanuel dan Benteng Amsterdam. Perjalanan menuju desa ini akan disuguhi dengan pemandangan yang menarik. Mulai dari pegunungan yang hijau dengan jalan yang berkelok-kelok hingga hamparan laut, pantai, hutan manggrove plus air yang jernih hingga ke pasir-pasirnya.

BENTENG AMSTERDAM

Di ujung desa yang menghadap ke laut ini terdapat sebuah Benteng Amsterdam yang dibangun oleh Portugis untuk gudang rempah-rempah yang kemudian direbut oleh Belanda. Bangunan benteng ini megah, mengambil posisi yang tepat untuk memiliki sudut pandang yang luas ke segala arah.
Benteng ini terletak di Desa Hila Kaitetu, Kecamatan Leihitu, sekitar 42 Km dari Kota Ambon. Benteng ini dibangun pada 26 Juli 1569 oleh Portugis yang dulunya diberi nama “Castel Vanveree”. Benteng Amsterdam merupakan bangunan tua yang sudah berusia ratusan tahun, dan menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah penguasaan VOC di Ambon.

Benteng ini pada awalnya digunakan sebagai loji tempat penyimpanan rempah-rempah (Pala dan cengkih). Setelah diambil alih Belanda, gudang penyimpanan rempah-rempah itu dijadikan benteng VOC. Sekitar tahun 1640, Gubernur Gerard Demmer memugarnya bangunan ini dan berganti nama menjadi Benteng Amsterdam.

Atapnya sudah terpasang rapi.  Warna merahnya mencorok.  Kontras dengan laut biru di belakang benteng.  Itu bukan atap asli.  Yang masih asli peninggalan Belanda dalam benteng ini adalah lantai batunya, tembok semen, dan kayu-kayu penopang beserta tangga menuju lantai atas.  Juga teras kayu di lantai dua.
Benteng ini dulu dibangun oleh Portugis pada tahun 1512 kemudian diambil alih oleh Belanda pada abad ke-17. Benteng ini merupakan benteng kedua yang dibangun oleh Belanda, setelah benteng Kasteel Van Verre di dekat Seith hancur.
Benteng Amsterdam didirikan pada masa perdagangan rempah-rempah di awal abad ke – 17, setelah VOC – Vereenigde Oost Indische Compagnie – dibentuk oleh Heeren Zeventien di Belanda.  Sebelum menjadi benteng, bangunan ini adalah gudang penyimpanan rempah-rempah milik Portugis. Pala, cengkeh, dan kelapa ditaruh di tempat ini. Setelah diambil alih Belanda, gudang penyimpanan rempah-rempah itu dijadikan benteng VOC.
Gempa dan tsunami itu terjadi pada tanggal 17 Februari 1674, mengakibatkan kerusakan parah desa-desa di pesisir utara Pulau Ambon dan bagian selatan Pulau Seram.
Memasuki benteng, di dekat pintu masuk kita akan menemui prasasti dengan lambang Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.  Prasasti tersebut bertuliskan :
BENTENG AMSTERDAM
Mulai Dibangun Oleh :  GERARD DEMMER Pada Tahun 1642
Kemudian diperluas dan diperbesar oleh : ARNOLD De VLAMING Van OUDS HOORN
Pada Tahun 1649 hingga Tahun 1656

   

Adapun yang dapat disaksikan pada Benteng Amsterdam yakni berupa perlengkapan perang milik belanda dan juga barang pecah belah yang telah berusia ratusan tahun.


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhkPOuI01I21p2uVf8WwLuR4s9HdG50th6_tyrvnN2h9lENozyaZk6LLnwkzTPQ3e7WXqwq6ExFMbjASiq6XwGc_vXjP5FWTduC2tovzVm7R2LZbFvWzA7Tz7ULK8Kr50de6ZN1vfEn_Wrm/s320/default.jpeg+m.jpeg                 



Tempat Penjanggan Benteng

KAWASAN DALAM BENTENG
Sumur didalam benteng




GAMBARAN DALAM BENTENG
Lantai 1

Lantai 2

Lantai 3

Benteng ini merupakan lokasi yang bagus bagi para pencinta keindahan alam, khusunya para penikmat sunset.

GEREJA TUA IMMANUEL-HILA

Di sebelah benteng, tidak jauh dari Benteng Amsterdam (50 Meter) ke arah selatan terdapat bangunan sejarah yang tak kalah menarik yakni Gereja Tua Imanuel yang mana merupakan bangunan kedua yang di bangun oleh Belanda di Pulau Ambon.


Gereja tua yang sudah ditinggalkan umatnya, yang bernama Gereja Imanuel. Gereja ini dibangun pada tahun 1846 dan masih digunakan ketika masyarakat Kristen masih menghuni desa ini. Pada awalnya perkampungan di Hila ini masih berbaur antara penduduk muslim dan Kristen, namun sejak kerusuhan di awal abad 21 (sekitar tahun 1999) menyisakan trauma yang mendalam bagi penduduk Kristen di Hila, dan mereka pun meninggalkan desa ini.
Gereja Tua di Hila bernama Gereja Immanuel dan merupakan bangunan gereja tertua di Provinsi Maluku. Bangunan sederhana ini berdinding kayu yang di cat putih dengan atap rumbia dan sebuah tiang lonceng menghiasi halamannya yang menghadap ke arah benteng yang dulunya berfungsi untuk memanggil umat beribadah. Desain dalam gedungnya pun sangat sederhana dengan sebuah mimbar kecil menghadap 2 barisan kursi yang berjajar ke belakang, sebuah balkon kecil di belakang deretan bangku (hingga kini masih kuat menampung orang diatasnya) dan sebuah ruang kecil bagi pendeta sebagai ruang persiapan. Gereja ini dikelilingi pagar setinggi 1 m.

Gereja ini dibangun pada tahun 1659 dan telah mengalami beberapa kali pemugaran. Pemugaran terakhir dilakukan karena gereja ini (bersama pemukiman Nasrani di daerah Hila) dibakar dan dihancurkan oleh massa pada tahun 1999 akibat kerusuhan (konflik SARA). Dan setelah angin perdamaian mulai tertiup di Bumi Para Raja Gereja Tua Imanuel pun kembali di bangun, dengan arsitektur bentuk yang sama.

Gereja Immanuel Protestan yang diduga sebagai gereja tertua di Indonesia. Gereja ini dibangun Portugis pada tahun 1580 namun diambil alih oleh Belanda 200 tahun kemudian, di Hila.
            Didalam gereja juga didapati sebuah informasi tentang keberadaan makam dibawah gereja. Berbunyi demikian :
Pada tanggal 31 Januari 1999 penemuan sebuah batu bertulisan yang terdapat dibagian bawah mimbar gereja tua Immanuel Hila Sarani yang diperkirakan sebuah makam Belanda Bunyi tulisan sebagai berikut :
USI FILTLIJK
VAN
KOODMAN EN OPPER HOOFD
DEZES DISTRICTS HILA
NATUS DEN 9 JULI 1718
ET
ORIET DEN 16 OKTOBER A. 1780
MET DET VAN DESZELES GOONMOEDE
SARA VAN DEN BUSSCHE
GEMALINNE VAN DENWOL EDELENCEST
JOAN ELLAS VAN MYLONDONK
EXTRA ORDINAIR RAAD VAN NEDERLND
NEVENS
DAT VAN HAAR WELDD GEBORN KLEM DOCTER
DE JONGE JEEROOW
WILHELMINA PEETRONELLA STEUTEL

Diatas tulisan tersebut terdapat sebuah ukiran b unga dalam lingkaran. Kedalaman makam tersebut kurang lebih 2 meter.

Saat ini gereja ini nampak kurang terawat baik.
           
Gereja ini dapat dikunjungi tanpa pungutan biaya, hanya saja ketika masuk kita akan disuguhi dengan buku tamu yang harus diisi dan kotak persembahan sebagai bentuk solidaritas kita membantu perawatan gereja tertua di Maluku ini.

TAMPILAN DALAM GEREJA
   
          

Kondisi Kayu Plafon Yang Sudah Tidak Baik







Lonceng Gereja saat ini

Sumber Sejarah :

-          Perjalanan Pribadi


SUGUHAN MENRAIK SEPANJANG PERJALANAN

Selasa, 10 September 2013

Memorial Building Ambon

“Memorial Building Ambon”

                Dibangun untuk memperingati 289 tentara dan 171 penerbang kesatuan Australia yang gugur di Maluku, Sulawesi dan kepulauan sekitarnya saat Perang Dunia (PD) II tahun 1941-1945, dan belum diketahui serta ditemukan jenasahnya hingga saat ini.
                Nama-nama mereka terpampang pada sisi kiri-kanan dinding bangunan “Memorial Building Ambon” itu, lengkap dengan pangkat, tanggal lahir dan umurnya yang gugur dalam PD II. Sedikitnya 694 orang tentara Australia dari total 1.131 orang tentara yang berasal dari batalyon 2/21 Australia Gull Force, gugur saat berperang melawan tentara Jepang pada tahun 1941 di Ambon, dan dimakamkan di Taman Persemakmuran Tantui, sedangkan yang bisa selamat dan kembali ke negaranya sebanya 232 orang.
                Lokasi Taman Persemakmuran “War Cemetery” di kawasan Tantui saat Perang Dunia II, merupakan lokasi kamp tahanan tentara negara-negara persemakmuran oleh tentara Jepang.
                Peringatan pembebasan tentara Australia dilakukan setiap tanggal 10 September yang bertepatan dengan tanggal pembebesan tentara yang disandera Jepang pada tahun 1945.
                Saat 1.131 personil Gull Force mendarat di Ambon pada bulan Desember 1941, lokasi Taman Makam Australia merupakan camp militer mereka. Namun kemudian camp tersebut justru menjadi lokasi tawanan mereka oleh Jepang.
                Saat Jepang mendarat tahun 1942, pasukan Gull Force terpukul mundur karena kekuatan yang tidak sebanding. Gull Force hanya satu batalyon sedangkan pasukan Jepang yang datang 30 batalyon. Pasukan Gull Force memilih mundur dan membangun kubu pertahan di Dusun Erie, Kecamatan Nusaniwe. Mereka mengira pasukan Jepang akan masuk dari arah Tanjung Allang, sehingga mereka mempersiapkan pergempuran tentara Jepang dari laut. Tetapi perkiraan tentara Australia ini meleset, tentara Jepang tidak masuk melalui Tanjung Allang, tetapi dari arah jazirah Leitimur Pulau Ambon. Jepang melabuhkan kapal-kapal perang mereka di pantai Hutumuri dan Hukurila, kemudian masuk kekota melalui desa-desa di pegunungan.
                Gull Force akhirnya menyerah, tetapi terlebih dulu menyembunyikan separuh persenjataan mereka di kawasan Gunung Nona yang menjadi kubu pertahanan terakhir Gull Force. Mereka ditawan oleh Jepang dibekas barak mereka di Tantui. Banyak tentara Australia yang meninggal saat dalam tawanan Jepang, karena kelaparan dan dieksekusi mati. Menurut cerita, saat ditawan tentara-tentara Australia ini sering diberikan makanan secara diam-diam oleh penduduk sekitar kamp tahanan. Banyak juga tentara Australia yang melarikan diri dari kamp tahanan.
                Saat Perang Dunia II berakhir, pasukan Gull Force yang tersisa di kamp hanya 200 orang lebih. Pemerintah Australia mengirimkan  kapal perang untuk membawa sisa pasukan mereka pulang ke negara Kangguru itu. Sedikitnya 694 Tentara Gull Force yang meninggal di aqmbon dimakamkan di taman makam ini.
                Berbagai cerita dan kesan akan kebaikan orang Ambon memang selalu menghiasi lubuk hati para veteran maupun keluarganya. Saat ini memang makam perang yang dibangun oleh Commonwealth War Grayes Commision ini, terdapat sedikitnya 2,137 kuburan yang terdiri dari 1.092 tentara Australia, 810 tentara Inggris, 30 tentara India, 2 tentara Canada, 1 tentara Selandia Baru, 1 tentara asal Afrika Selatan, 186 tentara Belanda, dan 15 warga sekutu lainnya. Mereka terdiri dari Angkata Laut 210 prajurit, Angkatan Darat 1.229 prajurit, Angkatan Udara 694 tentara dan 1 awak kapal dagang. Beberapa tahun lalu penghuni taman makam ini bertambah 9 kuburan. Sembilan tentara dari negara persemakmuran yang tewas saat helikopter mereka jatuh di Pulau Buru pada Perang Dunia II, ditemukan dan tulang-tulang mereka dimakamkan di Tantui.
                Di bagian depan taman terdapat “Memorial Building Ambon”. Tugu ini dibangun untuk memperingati 289 tentara dan 171 penerbang kesatuan Australia yang gugur di Maluku, Sulawesi, dan kepulauan sekitarnnya yang tidak diketahui dan ditemukan jenazahnya saat Perang Dunia II tahun 1941-1945. Nama-nama mereka terpampanh pada dua dinging bangunan ini.
                Nisan-nisan tentara yang gugur semunya terbuat dari perunggu dan terawat rapi. Di tiap nisan, terpahat lambang kesatuan, nomor prajurit, nama prajurit, umur, tanggal wafat, dan pesan dari orang-orang terkasih mereka, entah itu orang tua, istri, anak, maupun sahabat. Ada juga ratusan kuburan yang jenazahnya tidak dikenal. Di atas nisan yang tidak bisa dikenali ini hanya bertuliskan asal dan lambang kesatuan serta tulisan “Known unto God – Hanya Tuhan yang tahu”.